Morning Light: Penghargaan dan Penghormatan Para Seniman Bagi Para Odapus (Sabtu, 9 Mei 2009)
Teater Tertutup Dago Tea House, Bandung
Berikut pengantar dari kang Aat Soeratin:
“Para odapus mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan menerima anugerah maupun musibah Allah SWT. Dengan ringan dan sumringah mereka bisa berkata bahwa “penyakit lupus” bukan lah musibah yang harus diratapi sepanjang usia melainkan dirangkul sebagai sahabat yang memberi kehangatan jiwa untuk menyalakan keimanan dan menumbuhkan keikhlasan. Ujar mereka – dengan ringan hati: “Keep the spirit high! Sakit adalah salah satu cara Allah uintuk menunjukkan kasih sayangNya kepada kita karena jika kita ikhlas, ridho, sabar dan tawakal maka sakit menjadi ladangaamal dan penggugur dosa-dosa kita.
Maka pergelaran “Morning Light” dihasratkan sebagai semacam Penghormatan dan Penghargaan para seniman dan budayawan kepada para Odapus atas keteguhan hati, kegigihan tekad, keberanian luar biasa mereka dalam menjalani dan memaknai kehidupan. Para Odapus telah menginspirasi dan mengajarkan banyak hal kepada kita.
Lupus dalam bahasa latin berarti anjing hutan. Namun ikon bagi para odapus adalah kupu-kupu. Sangat tepat. Karena odapus memandang “lupus” bukan sebagai anjing hutan yang ganas melainkan kupu-kupu yang indah (karunia Allah). Maka mereka pun bersahabat dengan keindahan –karena tak seorang pun akan menolak keindahan.”
Sesaat sebelum Abah tampil ke depan untuk membuat catatan akhir pergelaran malam tersebut, kang Aat menambahkan sedikit pengantar, bahwa:
“Abah adalah guru saya dalam menafsir kehidupan. Di usianya yang di atas 60 ini, Abah iwan masih ditafsir orang sebagai seorang pemberani. Diantaranya karena Abah masih bersepeda sampai ke Bali, masih berlatih silat dan naik gunung. Abah juga merupakan pelatih militer. Selain itu, lagu-lagu gubahan Abah luar biasa baik. Naik gunung, menembus hutan. Berani.
Tetapi justru Abah menekankan bahwa, “Saya bukan orang yang pemberani. Saya masih menyimpan rasa takut. Makna berani yang sesungguhnya adalah berjalan terus ketika kita merasa takut.”
Dan itulah para odapus, mereka pasti takut dengan sakitnya, dengan masa depannya yang sudah nyaris dapat diukur sekian lama oleh medis, mereka pasti takut dengan penderitaannya. Tetapi mereka berjalan terus. Sebagian besar berprestasi luar biasa. Dan mengajarkan kepada kita.
Ketika bersentuhan dengan Syamsi Dhuha dan mendapatkan banyak informasi mengenai odapus, maka saya terngiang-ngiang makna keberanian yang abah katakan, yaitu, “Keberanian sesungguhnya adalah ketika kita merasa takut, kita tetap berjalan terus.”