Catatan Abah dalam World Lupus Day 9 Mei 2009 | 9 PM di Dago Tea House, di depan para Odapus:
Saya yakin bukan suatu kebetulan beberapa tahun yang lalu saya menuliskan sebuah lagu yang berjudul Dhuha. Mungkin lagu itu lahir melalui saya karena akan dijadikan malam ini untuk saudara-saudara. Lagu itu akan saya nyanyikan sebagai hadiah, juga sebagai rasa hormat dari kami para orang panggung. Kepada orang yang memberi inspirasi lebih dahsyat daripada imajinasi.
DUHA
Rembulan memudar
Dan matahari diam-diam semakin terjaga
Tersenyum merona… di ufuk timur… Cakrawala…
Pesona surya menatapku
menyapaku membelai jiwaku
Oh sang surya menghangatkan
Ruhaniku
Dan tiada terasa, merebak haru
Dalam sujudku yang semakin syahdu
Dan bergetar nada dawai jiwaku
MemujiMu…
Duhai Ilahi kami sering
Lupa mensyukuri semua ini
Oh Ilahi malu kami
Tak terhingga
Oh titik embun yang menetes
Membasuh relung jiwaku
Oh kicau burung menyambut surya berseri
Duhai Ilahi meski malu
Kami datang bersimpuh padamu
Oh Ilahi ridhoilah
Tobat kami
Saya ditugaskan oleh kang Aat untuk mempersembahkan kpd saudara-saudara sebetulnya lagu Detik Hidup, karena lagu Detik Hidup ini menjadi salah satu lagu yang masuk dalam album yang dibuat oleh ibu Dian dan kawan-kawan.
Malam ini saya minta ijin pada saudara-saudara, untuk membawakan lagu Detik Hidup itu, sesudah tiga lagu, sebagai hiburan kepada saudara-saudara. Saya di rumah menanyakan kepada istri saya, kepada teman-teman saya, apa yang harus saya nyanyikan? Mereka jauh lebih tabah dari saya, jauh lebih kuat dari saya. Saya harus menyemangati apa lagi?
Jadi saya akan menyanyikan saja lagu cinta. Hadiah kepada bu Diah dan teman-teman.
Ini lagu ditulis tahun 50an jaman orang tua kita dulu, dan menjadi inspirasi bagi saya. Inspirasi setelah berpuluh-puluh tahun kemudian saya membuat lagu Melati dari Jayagiri, Flamboyant. Tetapi lagu yang akan saya bawakan ini adalah tentang cinta. Orang bilang ini lagu jadul, lagu jaman dulu. Tetapi karena saya menyanyikannya sekarang, maka menjadi lagu jaman sekarang, tidak ada lagu jadul!
LEBUR
By FX Soetopo
Di dalam aku mencari
Tertumbuk pandangku oh dewi
Kemuning cintaku aku butuh hatimu
Cintaku dan hatimu kupadukan dalam irama nada-nada
Diiringi harapan jaya, buat diresap bersama
Namun segera siap laguku, tak tahu lagi aku dimana cintaku dan hatimu. Aku hanya bisa berkata. Cintaku dan hatimu
Lebur dalam itu, lebur.
Sekarang lagu untuk para kupu-kupu. Kupu-kupu selalu beterbangan dan berkeliaran kesana-kemari. Maka saya akan nyanyikan lagu tentang bunga. Lagu ini lahir tahun 50an, hadir untuk saudara-saudara malam ini lagu cinta, yang menurut keyakinan cinta akan membuat kita lebih kuat menghadapi berbagai persoalan.
CEMPAKA KUNING
Cempaka kuning asri di tepi halaman
Setangkai kau beri di pagi cerah
Wajahmu bening berseri, memberi harapan, kasihku dihati tak mungkin hilang.
Sentana setahun berlalu pergi, kelopak tak lagi bening berseri
Cempaka kuning layu masih kugenggam, Tandaan kasihmu tak mungkin hilang.
Sekarang ini lagu tentang cinta, tentang harapan, tentang bintang-bintang yang ada di langit pada saat matahari tenggelam. Ini untuk Banis anak saya, Nurjamila, cahaya bintang, supaya cahayanya sampai kepada teman-teman yayasan Syamsi Dhuha ini. Lagu tahun 1953, saya sampai lupa siapa yang menggubah lagu ini, tetapi ini lagu kesayangan saya, yang akan bawakan supaya jangan jadi lagu jadul, tetapi lagu masa kini.
SEJUTA BINTANG
Sejuta bintang kemilau menerangi mayapada
Seribu kenangan indah menjelma
Terbayang aku akan kisah lalu
Halus menjalin asmara
Gubahan semalam dewangga ratu
Kisah sekertaji jaya
Halus menitik embun di waktu malam indah sunyi
Seindah cumbuan bintang abadi
Lagu yang akan saya bawakan sekarang ini adalah lagu tahun 60an ketika saya dan teman-teman jaman SMA. Lagu ini memberi inspirasi, seperti saudara-saudara memberi inspirasi pada kang Aat dan pada saya, pada kita semua, melalui buku itu dan melalui CD, melalui dongeng dan kontak batin kita.
Ini lagu yang akhirnya bunga-bunga akan tumbuh, dan dia mengharum sepanjang masa walaupun sudah terbenam. No worries.
WHERE HAVE ALL THE FLOWERS GONE
by Pete Seeger
Where have all the flowers gone?
Long time passing
Where have all the flowers gone?
Long time ago
Where have all the flowers gone?
Girls have picked them every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?
Where have all the young girls gone?
Long time passing
Where have all the young girls gone?
Long time ago
Where have all the young girls gone?
Taken husbands every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?
Where have all the young men gone?
Long time passing
Where have all the young men gone?
Long time ago
Where have all the young men gone?
Gone for soldiers every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?
Where have all the soldiers gone?
Long time passing
Where have all the soldiers gone?
Long time ago
Where have all the soldiers gone?
Gone to graveyards every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?
Where have all the graveyards gone?
Long time passing
Where have all the graveyards gone?
Long time ago
Where have all the graveyards gone?
Covered with flowers every one
When will we ever learn?
When will we ever learn?
Tiba saatnya saya menyampaikan pesan kang Aat, yaitu lagu Detik Hidup. Lagu yang saya tulis tahun 1967 di bulan Ramadhan. Saya tidak menyangka lagu ini akan masuk dalam album Syamsi Dhuha. Ini kebanggaan dan kehormatan bagi saya dan mudah-mudahan memberi sesuatu pada kita semua.
Saya menulis lagu ini, namun saudara mengalaminya.
DETIK HIDUP
Detik-detik berlalu dalam hidup ini
Perlahan tapi pasti menuju mati
Kerap datang rasa takut menyusup di hati
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia
Pada hening dan sepi aku bertanya
Dengan apa kuisi detikku ini
Tuhan kemana kami setelah ini?
Adakah Engkau dengar doaku ini?
Saya tidak mungkin membiarkan malam ini berlalu hanya dengan lagu itu saja. Saya akan menyanyikan satu lagu yang ingin saya bawakan di depan saudara-saudara. Ribuan, jutaan tahun cahaya dari sini: MATAHARI. Seperti Syamsi Dhuha, yaitu sinar matahari nun jauh disana.
Kalau kita mengira matahari itu adalah nun jauh disana, sehangat matahari pagi. Yang akan saya bawakan sekarang adalah sepanas-panasnya cahaya matahari, menggelegar sepanjang jaman. Memberi daya hidup kepada kita semua. Ciptaan Allah Yang Maha Besar, dikawal oleh para Malaikat.. Masuk ke dalam tubuh kita.
MENTARI
Mentari menyala di sini
Di sini di dalam hatiku
Gemuruh apinya di sini
Di sini di urat darahku
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang sanggup menghalangiku
Bernyala di dalam hatiku
Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini di urat darahku
abah………aduh beri nyesl gak bisa nonton. katanya abah pulang dari aceh. abah beri hoyong ka bumi abah deui sareng kang erik
abah sehat-sehat aj kan ?????
kapan abah manggung lagi. beri nuju libur minggu tenang bade uas.
nuhun wassalam….