Oleh Ahmed Syahir
Sore itu, jalan raya Cigadung diselimuti kesejukan. Pada salah satu bukit di sudut kota Bandung itu bernaung pecinta Tuhan dan ciptaan-Nya. Tepatnya di sebuah gubug berlantai permadani.
Senandung damai dan cinta terngiang sepanjang waktu. Dari sana dawai gitar mengalun merdu mengiringi kalimat tasbih, hamdalah dan istighfar yang melantun syahdu nan merdu.
Siapakah yang melantunkan kata demi kata di bawah rimbunnya dedaunan pohon yang mengitari hunian mulia itu. Siapa lagi kalau bukan seniman balada, Iwan Abdulrachman atau yang lebih akrab disapa Abah Iwan.
Syair berikut kiranya dapat mengantarkan kepada sosok ini.
Melati dari Jayagiri. Kuterawang keindahan kenangan
Hari-hari lalu di mataku
Tatapan yang lembut dan penuh kasih…
Ya, itulah satu bait syair lagu yang berjudul Melati dari Jayagiri. Sebuah lagu gubahan Abah Iwan yang beberapa tahun lalu kembali terdengar lewat suara Jend. Wiranto. Orang yang mendengar lagu tersebut, mungkin, mengira bahwa melati yang dimaksud adalah bunga melati sebenarnya.
Ketika ditemui di kediamannya yang lekat dengan nuansa alami, Abah Iwan menjelaskan kepada Khalifah bahwa melati dalam lagu tersebut adalah sebuah perumpamaan, melati sebagai lambang kebanggaan, keagungan dan keharuman.
Lagu ini bukan syair cinta seperti yang diartikan kebanyakan orang. Kata seniman Bandung ini, Melati dari Jayagiri memiliki filosofi spiritual yang tinggi. Selain itu, lagu tersebut menggambarkan kehidupan alam dan cercahan harapan demi menanti hari esok di tengah sunyi malam.
Lagu itu adalah salah satu dari sekian banyak karya suami Hj. Djanuarsih Sariawati ini yang kesemuanya diakui sebagai catatan peristiwa batin, refleksi atas kelembutan jiwa dan pandangannya terhadap alam dan lingkungan yang dicintainya sejak kecil.
Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia (SMI) ini melihat alam sebagai makhluk Tuhan yang menyatu dengan manusia. Karenanya, sejak kecil ia berusaha mencintai dan menghormati alam.
Rasa hormat dan cintanya terhadap alam itulah ia tuangkan dalam banyak syair-syairnya yang kini masih dinikmati banyak generasi.
Di ruang tamu yang terletak di bagian bawah itu, bapak dari lima orang anak ini benar-benar cinta terhadap alam.
Kecintaannya itu terus bertambah tiap kali keluar masuk hutan, mengarungi rimba dan mendaki gunung. Karena itulah selain dikenal sebagai penggubah lagu dan penyanyi, Abah juga dikenal sebagai pengembara rimba dan pendaki gunung.
Hormati alam
Masih tentang alam. Anggota kehormatan Kopassus ini memandang bahwa alam manusia tidak dapat lepas dari alam semesta, khususnya pepohonan dan tetumbuhan. Manusia dapat bernafas pun karena peran makhluk Tuhan itu.
Karena itu dalam memandang alam, manusia mesti melihat alam bukan sebagai sebuah obyek. Tetapi sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan manusia.
Dalam hal ini, Abah mengajak kepada setiap orang tua agar menanamkan cinta terhadap alam kepada setiap anak-anak mereka.
Adapun caranya tidak mesti menyuruh mereka menyayangi alam sekitar secara dogmatis. Akan tetapi mengajak mereka untuk mengenal lebih dekat, seperti mengajaknya ke sawah, hutan, sungai dan lainnya.
Menyikapi adanya oknum yang gemar menebang hutan secara semena-mena, Abah memandang bahwa mereka masih memahami hutan sebagai obyek.
”Memanfaatkan hutan itu sah saja. Asalkan cara memperolehnya benar. Misalnya saja, gitar dan meja saya ini adalah kayu yang didapat dari hutan,” tegasnya.
Kakek empat orang cucu ini (sekarang lima – red) ini berharap setidaknya masih ada orang yang mencintai alam. Tidak hanya itu, ia juga menghimbau agar setiap manusia yang hidup di bumi ini untuk menghormatinya.
Seperti yang dicontohkannya, bahwa kakek dan nenek moyang bangsa ini adalah orang yang paling menghormati alam.
Mereka selalu meminta izin ketika akan menebang kayu di hutan. Oleh sebab itu, ia sangat menyayangkan ketika terjadi pembakaran hutan dan memanfaakan hutan dengan cara yang salah.
Mengenai musik, seniman nyentrik ini mengakui bahwa musik adalah alat untuk mempertinggi kualitas hidup. Sebagai sebuah media, musik dalam pandangannya merupakan alat yang netral.
Oleh sebab itu ia berupaya sebisa mungkin menjadikannya sebagai sesuatu yang memiliki manfaat. Setidaknya untuk kenikmatan diri. Lebih-lebih, orang yang mendengarkan lantunan syair-syair dan petikan gitarnya.
Lagu-lagunya telah mengundang minat banyak penikmat musik. Dan karena lagu-lagunya yang diciptakannya ia mendapatkan penghargaan. Antara lain dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2006), Unpad (sebagai penggubah Hymne Unpad, 1973), Kawakami Prize, Jepang (1985) dan lainnya.
Dengan tanpa menonjolkan nuansa Islam, pada dasarnya lagu-lagu dan syairnya memiliki nilai dan prinsip Islam yang dalam. Ia menganut madzhab cinta, madzhab yang dipakainya dalam mendekati-Nya.
Dengan cinta ia tebar kasih sayang kepada makhluk Allah dan melayani orang lain. Yaitu mereka yang teraniaya dan kesusahan. Dalam mencinta ia mencontoh sang Rasulullah Saw. Beliau cinta sesama manusia dan alam yang ada di sekelilingnya.
Ia tidak jarang berkhalwat, menyepi, sebagaimana Nabi Saw. Ia mendekatkan diri kepada-Nya baik dengan gitar ataupun dengan tasbih ketika tahajud di sepertiga malam serta khusyuk dalam setiap munajat melalui shalat.
Menjelang datangnya hari bumi pada 22 April, Abah Iwan berharap hadirnya kedamaian pada tempat berpijaknya setiap makhluk di dunia ini.
Terus berkarya Abah Iwan. Anak dan cucu bangsa ini semoga dapat belajar tentang kemaslahatan semesta.
Source: Khalifah, Edisi 83, Th IV, 13 Maret- 26 Maret 2008, 5 Rabi’ul Awal – 18 Rabi’ul Awal 1429 H (Sosok)

assalamualaikm
Bah
Abdi Ti lembang…..
Adbi Salah Sahiji Penggemar Abah….
KOmo Dei Abdi Paling Mikameumeut Lagu Melati Dari Jayagirih
Salam PanG wanoh Ti Abdi Di lembang
Assalamualaikum wr. wb.
Salam Rimba
Nepangkeun sim kuring Dudy Denci Asli urang ciwidey.
Taun 86 sim kuring ngawitan nguping lagu balada seorang kelana anu dinyanyikeun ku salah sawios senior Palawa Unpad (Kang Yuna) waktos pendidikan Dasar Baedau PA di SMA 12 Bandung di Ranca Upas.
Hatur nuhun kana sagala rupi kasaean Abah ka Urang Bandung sareng Bangsa Indonesia, mugi sing janten Ibadah. Amin
Insya Allah kasaean Abah bakal kapendak ku puta putu turunan Abah jaga .
Salam,
Dudy Denci
B9006 Elang Rawa