Iwan Abdulrachman yang biasa dipanggil Abah Iwan oleh kalangan seniman, budayawan, dan masyarakat Bandung, masih seperti dulu. Penggiat Wanadri, kelompok pecinta alam sangat beken di Bandung, yang pernah memimpin GPL (Grup Pecinta Lagu) Universitas Padjadjaran, Bandung pada dekade 70-an ini, tak berubah. Tetap bersemangat, konsisten dan konsekuen dengan komitmennya terhadap eksistensi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sama konsistennya dia dengan kegiatan menanam pohon. Beberapa waktu lalu, di sela peluncuran buku Kilometer 0,0, abah yang kini lebih suka plontos itu masih tampil prima.
Sambil mencicipi beberapa tusuk sate kambing muda, kami ngobrol tentang bagaimana menyikapi perkembangan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang menemukan momentumnya ketika presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) memelopori pendaftaran karya cipta lagunya belum lama berselang. Bagi Abah, hak atas kekayaan intelektual mesti menjadi bagian integral dari keseluruhan komitmen kita memelihara marwah budaya bangsa ini. Kendati demikian, kita tak perlu bereaksi emosional terhadap apa yang dilakukan anak-anak Negeri Jiran, Malaysia, yang banyak mengklaim beberapa karya seni Indonesia sebagai karya budaya mereka.
Abah justru melihat lebih luas. Secara kultural, katanya, karya budaya orang Melayu di Malaysia merupakan subsistem budaya Indonesia, Nusantara. Bahkan, rumpun masyarakat Melayu di Malaysia, bila ingin ditelusuri, merupakan bagian kecil dari keseluruhan komposisi masyakarat Indonesia yang plural. Saya sepakat dengan Abah.
Usai berbincang dengan Abah, saya berbincang dengan sepasang anak muda. Sang Jaka berdarah Mandailing, dan kekasihnya gadis Melayu keturunan Rao. Kami berbincang tentang banyak sisi tentang budaya Melayu, termasuk soal habit dan tatakrama yang berkembang sebagai ruh-nya. Ketika berbincang ihwal Kesultanan Deli Langkat dan Deli Tua yang istana Maimoon-nya dikunjungi SBY belum lama berselang, kami telusuri jejak historis, hubungannya dengan Kesultanan Penang.
Ambillah orang Melayu yang sedang berjaya di Jiran. Baik intelektual, petinggi kerajaan, petinggi Negara, seniman dan budayawan. Pasti tak seorang pun dari mereka bisa menghapus jejak nasabnya dengan Aceh, Melayu Deli, Minangkabau, Banjar, Bugis, Sunda, Jawa (termasuk Madura), Ternate, dan Tidore. Dalam banyak hal, karya industri kreatif mereka (khasnya film, musik dan tari) tak bisa lepas dari ragam budaya Indonesia yang sangat plural. Coba kaji karya-karya musical Tan Sri P Ramlee, Dato Salem, Datin Sharifah Aini, sampai Siti Nurhaliza, tak satupun yang bisa lepas dari akarnya: Indonesia. Bahkan apa yang sedang dilakukan Malaysia kini, dengan tahapan-tahapan pembangunan mewujudkan Wawasan 2020 mirip dengan konsep Repelita jaman pemerintahan Soeharto, yang kita tinggalkan dan tanggalkan.
Nah, lantaran kita baru mulai dengan Visit Indonesia Year 2008, ada baiknya sejak kini kita mewara-wara ihwal realitas budaya Indonesia yang tak terbantahkan. Bila Malaysia boleh bangga dengan tagline “Asia sebenar-benarnya”, The Truly Asia. Mestinya tagline ktia: “Dunia sesungguhnya”. Remy Silado pernah menulis, budaya Indonesia adalah budaya migran, di dalamnya ada budaya Arab, China, Eropa dan Hindi. Tak hanya film, musik, tari, dan kerajinannya. Bahkan kuliner dan religiusitasnya. Jadi, jangan marah, kalau esok-esok, jiran kita asik berdendang “Kenek-kenek Odeng” dan “Es Lilin”, yang dibawa orang Bawean dan orang Sunda kesana. Makanya, tegakkan HAKI, jangan ragu-ragu. Mau? Ayo!
Source: Jurnal Nasional | Kamis 31 Januari 2008 (Sosok & Sketsa – Jendela 23)