Iwan Abdul Rachman: Putra Gunung dan Hutan
Saya mengetahui Iwan Abdul Rachman sejak saya masuk Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, Wanadri tahun 1964 di Bandung. Sejak itu kehidupan “wawanadrian” membawa saya untuk lebih mengenalnya. Dengan maksud dan niat untuk berbagi, maka beberapa kesan dan kebaikan seorang Iwan Abdul Rachman saya ceritakan di sini.
Pada tahun 1967, yang merupakan ujung perjuangan tahun ’66 saya bertemu dengan Iwan dalam rangka ulang tahun RPKAD di Yogyakarta. Iwan dan beberapa teman Wanadri ikut latihan terjun di Batu Jajar dan melakukan penerjunan dalam acara ulang tahun tersebut, saya kebagian naik Gunung Slamet dalam satu seri pendakian beberapa puncak gunung oleh para perwira RPKAD. Ketemu di Yogyakarta, saya punya kesan Iwan adalah pemuda yang pemberani sekaligus rendah hati.
Berikutnya, persahabatan kami lebih intens ketika kita sering bermalam minggu di Jayagiri, Tangkubanparahu. Saya melihat Iwan tidak hanya sekedar bermain dan berkemah, tetapi Iwan mencoba “memacari” alam yang indah di Jayagiri. Memahami dan merasakan pagi yang cerah, bisik angin di daun, gemericik air di sungai, kicau burung dan pengembaraan jiwa kesenimannya itu seakan melebihi batas-batas alam lahiriah. Dalam umur yang relatif muda, Iwan dapat menciptakan lagu-lagu yang memiliki makna yang dalam. Jika disimak syair lagu “Melati Dari Jayagiri” maka pencapaian dan pencerahan jiwa Iwan terhadap kebesaran dan keagungan Sang Pencipta dapat dirasakan dalam lagu tersebut.
Peristiwa lainnya pada tahun 70an, saya, Iwan, serta anggota Wanadri dan pencinta alam lainnya berkesempatan melaksanakan suatu operasi kemanusiaan, operasi Search and Rescue (SAR) di gunung Gede – Pangrango, operasi SAR Willy/ Arif. Hampir sepuluh hari Iwan meninggalkan kuliah dan selama itu berada di hutan karena terpanggil untuk menolong orang. Setiap detik rasanya sangat berarti karena berkaitan dengan nyawa. Dari operasi itu nampak salah satu sifat Iwan Abdul Rachman yaitu jiwa penolong dan rasa kemanusiaan yang kental.
Banten Selatan tahun 70an merupakan daerah terpencil dan tertinggal. Bekerjasama dengan Gabungan Koperasi Pertanian (GAKOPERTA), Wanadri melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di “Api Cita”, desa Cidikit, kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Hampir satu bulan kita berada di lokasi, dan Iwan merupakan salah satu partisipan yang aktif. Ternyata Iwan terpanggil untuk membantu masyarakat terpencil. Ini berarti Iwan memiliki jiwa pengabdian pada masyarakat yang tinggi.
Saya dapat mengatakan bahwa Iwan telah memberi arti, isi, dan warna tersendiri terhadap Wanadri, sehingga dapat dikatakan “Iwan adalah Wanadri, dan Wanadri adalah Iwan.” Kehadiran Iwan dan lagu-lagunya telah mampu untuk mengikat dan mempersatukan secara emosional Wanadri sebagai saudara, sebagai keluarga besar, dan sebagai masyakarat Wanadri. Sungguh suatu tugas mulia dan tidak ringan tapi sudah menjadi kewajiban moral.
Iwan Abdul Rachman, tidak hanya memberi warna di kehidupan Wanadri, tetapi juga hampir di setiap komunitas pergaulannya. Di kampus Universitas Padjadjaran yang pada tahun 60 -70 an sangat kental dengan ego fakultas. Setiap fakultas merasa dirinya yang paling penting, sehingga tidak jarang dalam acara di tingkat Universitas terjadi bentrokan dan pertentangan. Namun Iwan Abdul Rachman dengan pendekatan dan kepribadiannya telah mampu sedikit demi sedikit mencairkan ego fakultas yang berlebihan. Melalui musik dan lagu nampaknya merupakan kekuatan Iwan untuk dapat mempersatukan mahasiswa UNPAD sebagai saudara dan keluarga besar.
Dari persahabatan dengan Iwan Abdul Rachman yang telah berputra dan bercucu serta pada tanggal 3 September 2007 tepat berusia 60 tahun, saya mendapatkan makna dan arti “persahabatan”. Walaupun secara fisik kita jarang bertemu, hal ini tidak berarti persahabatan dan persaudaraan kita berkurang, saya tetap menghormati dan menyayangimu.
Selamat ulang tahun. Semoga hidupmu dan keluargamu penuh arti dan makna, serta selalu dilindungi oleh Gusti Yang Maha Suci.
Amin.
TTD
Remi Tjahari
Sahabat dan saudaramu selalu
wilujeng ka iwan
wilujeng oge ka remi
wsww